Just another WordPress.com site

EKSISTENSI UPACARA SAPARAN “YAQOWIYYU” DI DESA JATINOM, KEC. JATINOM, KAB. KLATEN, JAWA TENGAH

oleh: Nur’aini Mulyaningsih

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saparan merupakan upacara ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa pada umumnya dan masyarakat Jatinom khususnya. Upacara Saparan di desa Jatinom terkenal dengan nama Yaqowiyyu. Banyaknya nilai kebudayaan dan religi yang terkandung dalam upacara ini menjadi alasan utama dalam penelitian ini.
Upacara Saparan merupakan ritual rakyat yang dianggap suci oleh masyarakat, khususnya masyarakat Jatinom, Klaten. Masyarakat percaya bila upacara Saparan dilaksanakan akan membawa kebaikan dan bila tidak, mungkin akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Apabila dipandang dari sudut budaya, akan ditemukan berbagai tradisi yang mengandung makna filosofi tinggi. Tradisi untuk menyebar apem mempunyai nilai yang berbeda dengan upacara Saparan di daerah lain. Filosofi dari sudut religi adalah kata apem berasal dari bahasa Arab “afwun” yang bermaksud sebagai saling maaf memaafkan satu sama lain.
Tradisi ini juga menambah keimanan dan mutu keagamaan masyarakat. Upacara ini selalu dikaitkan dengan tradisi ziarah makam Ki Ageng Gribig yang dimaksud untuk mendoakannya dan untuk mendoakan saudara-saudara yang telah meninggal agar diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT.
Sampai saat ini upacara Saparan masih eksis diperingati oleh masyarakat Jatinom dan sekitarnya disetiap tahunnya.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah sejarah/asal mula munculnya uapcara Saparan ?
2. Bagaimanakah pelaksananan ritual-ritual upacara Saparan?
3. Seberapa penting perayaan upacara Saparan bagi masyarakat Jatinom?
4. Apakah ada keyakinan-keyakinan/kepercayaan yang melekat pada ritual upacara Saparan?

C. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui sejarah/asal mula munculnya upacara Saparan.
2. Untuk mengetahui pelaksananan ritual-ritual upacara Saparan.
3. Untuk mengetahui pentingnya perayaan upacara Saparan bagi masyarakat Jatinom.
4. Untuk mengetahui keyakinan-keyakinan/kepercayaan yang melekat pada ritual upacara Saparan

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kajian Teori
Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Kebudayaan merupakan karakter suatu masyarakat, bukan karakter individual. Semua yang dipelajari dalam kehidupan sosial dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya merupakan kebudayaan. Menurut Ralph Linton, kebudayaan adalah warisan sosial dari anggota-anggota suatu masyarakat. M.J. Herskovits memandang bahwa budaya sebagai sesuatu yang superorganic karena bersifat turun-temurun meskipun masyarakat senantiasa silih berganti disebabkan oleh kematian dan kelahiran.
Saparan merupakan upacara ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa umumnya dan masyarakat Jatinom khususnya. Dianamakan Saparan karena upacara ini dilaksanakan pada bulan Sapar. Bila menggunakan kebudayaan menurut Ralph Linton dan M.J. Herskovits, Saparan merupakan suatu wujud kebudayaan yang dihasilkan oleh masyarakat dan sampai sekarang bersifat turun-temurun.
Menurut Pengelola dan Pelestari Peninggalan Kyai Ageng Gribig (P3KAG) Jatinom, Klaten, Saparan merupakan ritual tahunan yang diperingati untuk melestarikan budaya turun-temurun dari leluhurnya yaitu Ki Ageng Gribig. Upacara Saparan di desa Jatinom terkenal dengan nama “Yaqowiyyu”. Kata Yaqowiyyu berasal dari do’a yang diucapkan oleh Ki Ageng Gribig saat memberikan kue apem kepada masyarakat. Yaqowiyyu artinya Tuhan Yang Maha Kuasa dan Perkasa. Do’a ini ditujukan agar orang-orang muslim mendapat kekuatan dalam menjalani kehidupan dan diberi rizki. Sedangkan kata apem berasal dari kata “afwun” yang artinya “maaf”. Kata ini berasal dari Bahasa Arab. Maksud dari kata ini adalah hendaknya antara satu orang dengan yang lain senantiasa saling memaafkan. Upacara ritual ini terkenal dengan sebaran apem.
Jika menggunakan konsep kebudayaan menurut Koentjaraningrat, kebudayaan yang ada di desa Jatinom adalah hasil dari ide atau gagasan maryarakat untuk meneruskan apa yang dilakukan Ki Ageng Gribig. Hal itu diikuti dengan rasa percaya tinggi. Maka ditindak lanjuti dengan menciptakan penyebaran kue apem yang dahulu dilakukan oleh Ki Ageng Gribig dengan membagikan kepada masyarakat usia sholat Jumat. Kebudayaan ini merupakan milik dari masyarakat Jatinom karena di kota lain tidak seperti ini. Meskipun ada upacara Saparan di daerah lain seperti Pengging, Boyolali dan Wonolelo, Sleman, Yogyakarta tetapi upacara Saparan di Jatinom, Klaten berbeda dengan di dua daerah tersebut.

B. Hasil Pengamatan
1. Sejarah/Asal Mula Munculnya Upacara Saparan
Konon menurut sejarah, suatu hari di bulan Sapar, Ki Ageng Gribig yang merupakan keturunan Prabu Brawijaya, raja dari kerajaan Majapahit kembali dari perjalanannya ke tanah suci ia membawa oleh-oleh 3 buah penganan dari sana. Sayangnya saat akan dibagikan kepada penduduk, jumlahnya tak memadai, bersama sang istri iapun membuat kue sejenis. Kue-kue inilah yang kemudian disebarkan kepada penduduk setempat yang berebutan mendapatkannya sambil menyebarkan kue-kue ini iapun meneriakkan kata “yaqowiyu” yang artinya “Tuhan berilah kekuatan”
Penganan ini kemudian dikenal dengan nama apem saduran Bahasa Arab “afwun” yang bermakna ampunan, tujuannya agar masyarakat selalu memohon ampunan kepada sang pencipta.
Sejak saat itu, tepatnya sejak tahun 1637 Ki Ageng Gribig selalu melakukan hal ini, iapun mengamanatkan kepada masyarakat Jatinom saat itu, agar di setiap bulan Sapar memasak sesuatu untuk disedekahkan kepada mereka yang membutuhkan, amanat inilah yang menjadi tradisi hingga kini di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah yang dikenal dengan “Yaqowiyyu”.

2. Pelaksananan Ritual-Ritual Upacara Saparan.
Persiapan pelaksanaan upacara Saparan “Yaqowiyyu” dilaksanakan satu bulan sebelum perayaan Saparan. Diawali dengan pembentukan panitia khusus yaitu Pengelola dan Pelestari Peninggalan Ki Ageng Gribig Jatinom yang bekerjasama dengan instansi pihak terkait. Persiapan matang dari panitia terlihat pada satu minggu terakhir sebelum upacara penyebaran apem.
Upacara Saparan “Yaqowiyyu” dilaksanakan satu tahun sekali dalam kalender Jawa yaitu pada bulan Sapar pada hari Jumat. Dilaksanakan pada hari Jumat karena Ki Ageng Gribig juga melaksanakannya pada hari Jumat. Puncak acara ritual Saparan “Yaqowiyyu” adalah pada saat penyebaran apem usai sholat Jumat, dimulai jam 12.30 sampai denagn jam 14.30 WIB.
Tempat-tempat yang berkaitan dengan pelaksanaan Upacara Saparan “Yaqowiyyu” antara lain halaman Masjid Besar Jatinom untuk penyerahan gunungan apem dari Muspida kepada pengurus masjid. Gunungan apem kemudian dibawa ke kantor kecamatan untuk acara pembukaan upacara. Dua hal ini dilakukan 7 hari sebelum penyebaran apem.
Upacara kedua adalah penyerahan kembali gunungan apem ke Masjid Besar Jatinom untuk disemayamkan dua hari sebelum acara inti.
Upacara ketiga atau upacara inti bertempat di sendang Klampeyan. Tempat yang digunakan Ki Ageng Gribig berdiskusi bersama muridnya tentang masalah fiqih. Setelah sholat Jumat selesai gunungan apem siap untuk dibawa ke sendang Klampeyan diiringi pemeran tokoh Ki Ageng Gribig, istrinya, para sahabat dan muri-muridnya. Di sendang Klampeyan lah tempat penyebaran apem dilaksanakan setelah dido’akan. Lokasi sendang Klampeyan adalah di bawah pekarangan Masjid Besar Jatinom, dekat dengan sungai kecil. Apem disebar dari menara kandang apem. (Denah upacara serah terima gunungan apem terlampir)
Ada pula acara-acara yang menyertai upacara Saparan ini antara lain acara ziarah ke makam Ki Ageng Gribig pada malam setelah pemotongan tumpeng, acara pembacaan Al-Qur’an dan tahlil pada malam sebelum penyebaran apem, dan yang tidak dilupakan adalah acara untuk membersihkan lingkungan makam dan daerah kampung, dilaksanakan 7 hari sebelum penyebaran apem.
Apem merupakan perlengkapan inti pada upacara Saparan “Yaqowiyyu” di Jatinom. Pada mulanya apem tidak dibentuk seperti saat ini. Pada masa Ki Ageng Gribig apem hanya dibagikan seperti biasa. Namun seiring berkembangnya zaman dan waktu apem ditempatkan pada panjang ilang yang terbuat dari janur (daun pohon kelapa yang masih muda) dan pada jodang yaitu tempat makanan yang terbuat dari kayu dan diukir. Pada saat ini jodang yang dulunya digunakan untuk tempat apem sekarang digunakan untuk kenduri yang dilaksanakan oleh mayarakat. Saat ini apem siletakkan pada tandu.
Penggunaan panjang ilang tidak berhenti, namun dibuat lebih kecil sebagai pengantar dua gunungan apem menuju sendang Klampeyan. Kedua gunungan apem desemayamkan di pendopo utara Masjid Besar, sedangkan apem yang ditaruh di dalam panjang ilang disemayamkan di makam Ki Ageng Gribig.
Apem dibentuk menyerupai gunung sehingga disebut gunungan. Ada dua gunungan yang biasa disebut sebagai gunungan lanang dan gunungan wadon. Hal ini menyimbolkan Ki Ageng Gribing dan Nyi Ageng Gribig. Apem juga pernah berbentuk singa betina yang disebut Nyau Kopek dan ular betina yang disebut Nyai Kasur. Konon keduanya adalah binatang kesayangan Ki Ageng Gribig. Bentuk-bentuk apem yang terus berkembang ini hanya untuk menembah semarak dan meriahnya upacara ini.
Apem yang dulunya dibuat oleh istri Ki Ageng Gribig, kini apem dibuat oleh masyarakat. Apem yang dibutuhkan sangat banyak hingga mendapat kiriman dari berbagai daerah yang masih termasuk ahli waris dari Ki Ageng Gribig. Apem dikirim dari berbagai daerah seperti Tumenggung, Demak, magelang, Pati, Yogyakarta dan Solo. Apem yang diperlukan pada upacara Saparan ini mencapai sekitar 4,5 ton kue apem atau sekitar 38 ribu kue apem. Penyusunan gunungan apem itu juga ada artinya, apem disusun menurun seperti sate 4-2-4-4-3 maksudnya jumlah rakaat dalam shalat isya, subuh, zuhur, ashar dan magrib. Mereka (warga yang membawa apem tersebut) membawa pulang sepasang kue apem sebagai oleh-oleh.
Perlengkapan lainnya adalah pakaian adat Solo-Yogya yang digunakan untuk memerankan tokoh Ki Ageng Gribig, Nyi Ageng Gribig dan pager ayu yang terdiri dari para sahabat, dan murid-muridnya. Tidak semua orang memakai pakaian itu, hanya orang-orang tertentu yang telah ditunjuk sebagai pemeran yang memakainya.
Adapula ingkung dan tumpeng yang melambangkan persatuan dan kesatuan masyarakat Jatinom. Miniatur Masjid Alit yang dipercaya sebagai dalem Ki Ageng Gribig dan sebagai tempat pertama kali Ki Ageng Gribig menyebarkan agama Islam.

3. Pentingnya Perayaan Upacara Saparan Bagi Masyarakat Jatinom
Upacara Saparan “Yaqowiyyu” sangat penting bagi masyarakat Jatinom. Upacara ini bersifat sangat religius untuk mengenang jasa Ki Ageng Gribig yang telah membangun desa Jatinom sekaligus menyebarkan agama Islam disana. Upacara ini juga mempunyai nilai filosofi yang tinggi yaitu ajaran agar kita saling memaafkan. Ajaran ini diambil dari kata yang berasal dari Bahasa Arab “afwun” yang menjadi kata apem.
Hal yang lebih penting dari perayaan ini bagi masyarakat Jatinom adalah melestarikan dan meluruskan sejarah yang sebenarnya. Sejarah mengenai Ki Ageng Gribig mempunyai beberapa versi yang kemungkinan ada penyelewengan sejarah. Selain itu upacara Saparan diadakan agar tradisi ini tetap berjalan turun-temurun lintas generasi, sehingga tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Upacara saparan “Yaqowiyyu” merupakan tradisi atau adat kebiasaan yang berlaku sehingga masyarakat mempunyai kepercayaan yang kuat dan tidak berani untuk meninggalkannya. Upacara Saparan “Yaqowiyyu” juga dianggap membawa berkah bagi masyarakat. Tak heran jika masyarakat memperebutkan apem yang disebarkan di sendang Klampeyan tersebut. Alasan lain yang mendukung upacara ini tetap dilaksanakan yaitu adanya dorongan dari pemerintah daerah Klaten, dianggap menguntungkan karena adanya pemasukan kas.
Alasan-alasan tersebut merupakan alasan warga tentang pentingnya perayaan upacara saparan bagi masyarakat Jatinom.

4. Keyakinan-Keyakinan/Kepercayaan yang Melekat pada Ritual Upacara Saparan
Upacara Saparan “Yaqowiyyu” adalah upacara yang berinti memberi do’a. Do’a awalnya dari Ki Ageng Gribig yang memohon kepada Allah agar memberikan kekuatan kepada santrinya dan kepada masyarakat. Do’a itu dilantunkan pada saat sebelum penyebaran apem dimulai. Kata “Yaqowiyyu” dalam do’a ini yang digunakan untuk menyebut acara ini. Upacara ini mempunyai dampak menyebarnya agama Islam di desa Jatinom.
Berbeda dengan sudut religi dalam pandangan santri, nilai religi bagi masyarakat Kejawen adalah kekramatan tempat-tempat peninggalan atau petilasan Ki Ageng Gribig. Mereka percaya bahwa Ki Ageng Gribig sakti maka mereka bersemedi di makammnya atau di tempat peninggalannya dengan harapan dapat membawa berkah. Cara bersemedi dengan membakar kemenyan dan melantunkan do’a yang menjadi keinginannya sert menabur bunga di makam Ki ageng Gribig.
Bagi masyarakat Kejawen adanya kepercayaan dan anggapan adanya berkah dari perebutan apem yang disebarkan merupakan nilai yang paling penting. Tak heran jika mereka merebut apem semampunya dan bahkan ada yang memungut bagian-bagian kecil dari apem yang disebarkan.
Mereka mempunyai kepercayaan bahwa kue apem yang disebarkan dan dilantunkan do’a sebelum penyebarannya pasti bertuah. Mereka datang dengan tujuan tertentu saat akan merebut kue apem, tujuan mereka misalnya:
a. Para petani merebut kue apem dengan tujuan akan dijadikan tumbal pada sawah ladang mereka agar sawah ladang mereka subur dan jauh dari gangguan hama.
b. Apem digunakan sebagai penjaga rumah. Warga melakukannya dengan cara menggantungkan kue apem tersebut pada pintu rumah. Hal ini dilakukan agar terhindar dari perbuatan jahat.
c. Pedagang menggunakan apem sebagai pelaris dan agar terhindar dari kerugian.
d. Pelajar yang masih mempercayai adanya hal bertuah menggunakan apem sebagai pelancar dalam belajar.
Masyarakat yang mendapat banyak apem pada saat perebutan biasanya akan mengadakan pertunjukan wayang kulit atau pertunjukan lainnya, sehingga menambah keramaian kota.
Sapar termasuk salah satu bulan yang dirayakan oleh umat Islam di Indonesia. Al-Qur’an memang tidak mengharuskan umatnya untuk merayakan bulan itu, namun orang-orang orang-orang Indonesia melaksanakan upacara peringatan agama merupakan unsur ungkapan terima kasih atau rasa syukur. Hal ini juga merupakan tujuan dari upacara Saparan “Yaqowiyyu”.

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa,
1. Saparan merupakan upacara ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa pada umumnya dan masyarakat Jatinom khususnya. Upacara Saparan di desa Jatinom terkenal dengan nama Yaqowiyyu.
2. Menurut Pengelola dan Pelestari Peninggalan Kyai Ageng Gribig (P3KAG) Jatinom, Klaten, Saparan merupakan ritual tahunan yang diperingati untuk melestarikan budaya turun-temurun dari leluhurnya yaitu Ki Ageng Gribig.
3. Sejarah/asal mula munculnya saparan yaitu dimulai ketika Ki Ageng Gribig pulang dari Mekah membawa oleh-oleh berupa kue apem. Sayangnya saat akan dibagikan kepada penduduk, jumlahnya tak memadai, bersama sang istri iapun membuat kue sejenis. Kue-kue inilah yang kemudian disebarkan kepada penduduk setempat yang berebutan mendapatkannya sambil menyebarkan kue-kue ini iapun meneriakkan kata “yaqowiyu” yang artinya “Tuhan berilah kekuatan”.
4. Upacara saparan “Yaqowiyyu” merupakan tradisi atau adat kebiasaan yang berlaku sehingga masyarakat mempunyai kepercayaan yang kuat dan tidak berani untuk meninggalkannya. Upacara Saparan “Yaqowiyyu” juga dianggap membawa berkah bagi masyarakat. Tak heran jika masyarakat memperebutkan apem yang disebarkan di sendang Klampeyan.

B. Saran
Saran-saran yang dapat disampaikan peneliti antara lain:
1. Upacara Saparan “Yaqowiyyu” hendaknya terus dilestarikan dan dikembangkan agar tidak luntur dan mati, akibatnya generasi penerus kita tidak akan mengenal upacara Saparan “Yaqowiyyu”.
2. Dinas Pariwisata Kabupaten Klaten hendaknya lebih memperhatikan lagi perbaikan sarana dan prasarana untuk melangsungkan Upacara Saparan “Yaqowiyyu”, agar para pengiunjung nyaman dalam mengikuti acara ini.
3. Keberhasilan Upacara Saparan “Yaqowiyyu” serta kebudayaan lain yang ada di Jatinom hendaknya agar dapat dilestarikan dan difungsikan sebagai obyek wisata.

DAFTAR PUSTAKA

Idianto. M. 2004. Sosiologi untuk SMA Kelas X. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Indah Sri Rahayu. 2005. “Upacara saparan “Yaqowiyyu” (Sudut Kebudayaan dan Religi) di Desa Jatinom, Kec. Jatinom, Kab. Klaten, Jawa Tengah”. Tugas Akhir Semester I. Surakarta: Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret.

P3KAG. 2008. Perayaan Tradisionil Yaqowiyyu Jatinom Klaten.
Anonim. Upacara YaQowiyyu Sebar 4,5 Ton Kue Apem. (online). http//oase.kompas.com. Diakses tanggal 2 januari 2011.
Anonim. Berebut Apem Yaqowiyu. (online). http//tonosolo.multiply.com/journal/. Diakses tanggal 2 Januari 2011
klatenonline.com/klaten/saparan-jatinom. Diakses tanggal 30 Desember 2010.
http://www.trulyjogja.com. Diakses tanggal 30 Desember 2010.

LAMPIRAN

SUMBER INFORMAN

Nama : Bp. Panji Supardi
Usia : 57 tahun
Alamat : Suran Rt 04/III, Jatinom, Kec. Jatinom,
Kab. Klaten
Pekerjaan : Wiraswasta
Kedudukan : Ketua RT dan Ketua Pelaksana Harian Makam
Ki Ageng Gribig.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.